Jangan kaubenci dulu bulan Agustus

Hai, kamu. Apa kabar?

Duh, pertanyaanku ini bodoh sekali. Tentu saja saat ini kamu sedang tidak baik-baik saja dan karena itu pula aku mengirim surat ini kepadamu. Iya, kamu benar. Sepucuk surat mungkin tidak akan bisa mengobati lukamu saat ini. Dan maafkan aku, karena baru saja menemukan nyali untuk menyapamu setelah menunggu lama. Namun, tolong percayalah, seandainya bisa, aku sangat ingin pergi ke sana dan memelukmu erat sekali. Apa pun akan kulakukan agar kamu tidak merasa sendirian dan menyakinkanmu bahwa itu semua bukanlah salahmu.

Bukan, sama sekali bukan.

Aku mengerti, kok, kalau kamu lebih memilih untuk melalui ini semua sendirian. Tetapi, aku ingin mengatakan kepadamu bahwa pada akhirnya, kamu akan bisa melalui semua ini. Meskipun tidak mudah sama sekali. Kamu itu sangat kuat, jauh lebih kuat daripada yang kamu sangka saat ini. Sampai aku sendiri pun harus mengucapkan terima kasih karena aku bisa bertahan sampai sekarang ini, sampai detik ini. Semua ini, yaa … karena kamu.

Aku tidak akan menjadi Aku yang sekarang kalau saja kamu tetap keras kepala dan meneruskan niatmu untuk tetap bergeming di dalam air perih berkaporit itu. Kamu urungkan niatmu itu karena kamu takut kalau nanti di alam sana ketemu Bapakmu, kan? Takut dipukul pakai sapu penebah kasur, pikirmu saat itu. Pikiran konyol yang justru menyelamatkanmu. Padahal mungkin, Bapakmu akan menyambutmu dengan gembira dan memelukmu erat sekali. Sama seperti yang aku inginkan saat ini. Memelukmu.

Aku pun akan mengerti kalau nantinya kamu akan membenci bulan Agustus. Tidak apa-apa. Agustus memang akan terus menjadi mimpi buruk kita berdua, sampai detik ini. Rasa benci itu pun seringkali berubah menjadi rindu. Mungkin karena sudah lama terbiasa dengan rasa sakit, hingga saat rasa sakit itu tak ada, kita kebingungan mencarinya ada di mana. Tetapi sekali lagi, tidak apa-apa, itu semua bukan salahmu.

Eh tapi, tunggu sebentar! Kamu jangan terlalu benci dulu dengan bulan Agustus. Karena beberapa hari yang lalu, kamu baru saja merayakan ulang tahun perkawinanmu, dengan orang yang kamu cintai dan mencintaimu.

Dariku,
Dirimu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.