Gaya Hidup Saya Berubah Selama di Spanyol

Snow in Andorra
Suatu hari di Andorra, 2018

Sebenarnya komentar beberapa teman saya yang bilang kalau saya tidak berubah setelah tinggal di Spanyol (baca post sebelumnya), kurang tepat. Selama hampir 3 tahun tinggal di Spanyol tentu saja saya berubah. Berikut adalah beberapa perubahan saya yang “signifikan” selama di sini.

Sering Masak

Ini adalah perubahan saya yang sangat signifikan. Hehehe. Dulu, sebelum pindah ke Spanyol, saya jarang banget masak lho, atau bisa dibilang nggak pernah masak. Bukannya malas, tapi ya gimana lagi, kan di dekat rumah banyak yang jual makanan. Tinggal jalan belok kiri, ada nasi padang; belok kanan, ada nasi pecel; bahkan diam di rumah aja banyak abang-abang yang lewat, tinggal manggil. Kalau lapar tengah malam pun ada yang nolong, yaitu abang tukang mie dok-dok, jadi hitung-hitung bagi rezeki (ih ngeles) hehehe. Tapi pas pertama kali menginjakkan kaki di Spanyol, duh, rasa makanannya belum ada yang cocok. Asin semua!!

Jadi salah satu cara untuk bertahan hidup di sini adalah meMASAK! Kalau buat mereka yang hanya jalan-jalan aja sih mungkin bisa bertahan, karena rata-rata paling lama cuma 2 minggu. Setelah itu bisa balik ke Indonesia lalu makan nasi padang. Hehehe. Tapi bagi mereka yang tinggal di luar negeri, mereka harus bisa survive. Jadi mau nggak mau harus (bisa) masak sendiri.

Dan sejak tinggal di sini, saya jadi rajin masak, resep nusantara tentu saja. Suami pun jadi terbiasa makan pedas. Saya jarang masak makanan Spanyol. Kalaupun masakan Spanyol, paling gampang bikin Tortilla de Patata, alias omelet kentang Spanyol. Saya juga jadi sering nonton kanal memasak di Youtube, atau follow akun resep masakan di Instagram. Kadang suka sedih kalau lagi browsing di Youtube cari ide resep, karena dijamin bakalan ngiler duluan. Duh kangen, pengen pulang. Lalu kalau mau masak resep yang sebenarnya gampang, harus disiapin bahan-bahannya dari jauh-jauh hari karena harus belanja dulu ke toko Asia di Barcelona (sekitar 25 km dari Sabadell, kota tempat saya tinggal).

Sering Jalan Kaki

Kalau di Jakarta atau Surabaya sudah pasti kemana-mana naik Ojol. Di sini, selain sistem transportasi umumnya yang bagus dan nyaman (tapi tetap harus hati-hati karena banyak copet juga di Barcelona), trotoarnya pun lebar jadi nyaman untuk jalan kaki.

Street in Jaen, Spain
Salah satu sudut jalan di Jaen, Spanyol (2016)

Barcelona dan Sabadell sih masih enak kalau untuk jalan kaki karena jalanannya relatif datar. Di Jaen, kota tempat saya kuliah dulu, jalanannya naik turun karena kontur tanahnya berbukit. Jadi lumayanlah olahraga tiap hari, nggak perlu pergi ke gym.

Suka Bawang Goreng

Dulu saya paling anti bawang goreng. Setiap kali pesan soto atau bubur ayam, saya selalu bilang, “Gak pake bawang goreng ya, Bang.” Tapi di sini, lidah saya tiba-tiba lupa kalau pernah benci bawang goreng. Jadi ceritanya waktu awal-awal tinggal di Jaen, saya diajak teman-teman makan di 100Montaditos, salah satu franchise makanan cepat saji di sini. Montadito adalah semacam sandwich berukuran mini dengan roti sejenis baguette. Lalu waktu saya makan salah satu montaditonya (rasa ikan tuna kalau tidak salah), eh kok tumben enak dan cocok di lidah. Ternyata ada bawang gorengnya. Oh, rasanya enak juga ternyata. Mungkin karena bawang goreng di sini umumnya dibuat dari bawang bombay jadi rasanya lebih lembut daripada bawang merah (shallot) goreng. Sejak itulah, bawang goreng menyelamatkan hidup saya. Di rumah, kami jadi selalu punya stock bawang goreng sekarang.

Sering Makan Indomie

Memang ya, dimana-mana kalau tinggal di luar negeri pasti yang bikin kangen adalah.. Indomie! Saya sebenarnya alergi MSG atau micin. Setiap kali makan Indomie atau snack yang banyak micinnya, saya pasti kembung dan pusing setelahnya. Jadi saya jarang sekali makan Indomie di Indonesia. Tapi di sini, Indomie itu pengobat rindu dan penyelamat kalau lagi malas masak. Hehehe.

Saya jadi ingat kata seorang teman saya, “Kalau di sini, makan Indomie itu BAHAYA. Tapi kalau di sana, kamu pasti BAHAGIA.” Aah, bener banget kamu, Jum.

Sering Makan Salad

Meskipun saya di sini jadi sering makan Indomie, saya juga jadi sering makan salad lho. Jadi seimbang kan? Hehehe. Sebenarnya dulu di Indonesia saya juga sering makan salad kok, alias lalapan. Hihi. Tapi memang kalau diperhatikan, kebiasaan makan sayur orang barat dengan orang Indonesia pada umumnya memang berbeda. Di sini sayur lebih banyak dimakan mentah. Kalau kita di Indonesia kan sayurnya selalu dimasak atau minimal ditumis, jadi sudah satu paket. Contohnya sayur bening/bayam, plecing kangkung, sayur sop, sayur lodeh, atau gado-gado. Aduh, mengetik namanya saja saya jadi lapar.

Tidak Pernah Setrika

Dulu sering sekali punya tumpukan baju di sudut kamar kos (kalau pas rajin nyuci, hihi) karena malas setrika. Saya harus mengumpulkan semangat yang cukup jauh-jauh hari sebelumnya. Di sini, sewaktu tinggal di Jaen, saya tidak pernah melihat teman kos saya setrika baju. Eh, pernah, tapi cuma sekali. Itupun karena bajunya masih lembab, waktu itu musim dingin jadi dia setrika bajunya dan cuma satu, yang mau dia pakai besok pagi.

Saya sempat berpikir, mungkin di sini anak-anak remajanya saja yang jarang setrika. Di rumah mereka pasti orang tuanya yang setrika baju. Eh, setelah menikah, ternyata suami dan mertua juga tidak pernah setrika. Setrikaan sih punya, tapi tidak pernah dipakai. Jadi setelah angkat jemuran, pakaiannya hanya dilipat dan masuk lemari. Saya sih senang, nggak perlu repot setrika. Cepat dan hemat (listrik). Kalau melipatnya bener, baju jadi nggak kusut kok. Coba deh, daripada baju ditumpuk-tumpuk, jadi rumah nyamuk.

Belajar Lebih Banyak Tentang Negeri (dan Diri) Sendiri

Tiga tahun tinggal di negeri orang membuat saya semakin belajar banyak hal tentang negeri sendiri. Karena yang pertama dan utama, di sini saya pasti dibanjiri banyak pertanyaan oleh orang-orang yang tidak tahu dan ingin tahu soal Indonesia. Contoh yang sederhana adalah ketika saya ditanya, “Bedanya antara bendera Indonesia dan Monako apa?” Duh apa yah. Selama ini saya hanya tahu kalau sama-sama berwarna merah putih. Tapi tentu saja ada bedanya. Jadi mau nggak mau saya harus browsing di internet untuk cari tahu jawabannya. Sejak itu, saya jadi sering browsing hal-hal sederhana tentang Indonesia yang tidak pernah saya perhatikan sebelumnya. Tanpa sadar, saya jadi lebih mencintai negeri sendiri justru saat tinggal di negeri orang.

Memang kita harus pergi merantau atau keluar dari zona nyaman kita selama ini untuk mengenal dunia luar. Dan yang paling penting adalah mengenal diri kita sendiri. Tidak harus keluar negeri kok, yang sederhana saja. Contohnya pergi ke tempat yang sama sekali belum pernah kita singgahi sebelumnya, ke tempat yang sama sekali berbeda bahasa dan budayanya, yang tidak ada satupun kerabat di sana. Lalu mau tidak mau kita harus beradaptasi dan memperluas perspektif kita dengan menjadi lebih terbuka dengan segala perbedaan. Karena di dunia ini tidak semua orang suka makan bubur ayam tanpa diaduk.

6 Comments Add yours

  1. wsari says:

    Cieee dia sdh mau makan bawang gorenggg… kalo ketumbar gmn mputtt…

  2. Putri Ayusha says:

    Kalo ketumbar gak pernah jadi masalah tante.. aku dan dia selalu rukun.. hihihi..

  3. Roni says:

    Mantap ya tinggal di sepanyol..ane pingin ke madrid klo ada rezeki

  4. Putri Ayusha says:

    Terima kasih sudah mampir 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.