Kebule-bulean

Bebek Bule

Sudah lama saya tidak nulis di blog ini. Malas menulis memang penyakit berbahaya. Terakhir kali menulis pun sudah lebih dari setahun yang lalu. Termasuk lama banget yah (ampuun).

Awal Oktober 2018 lalu, saya pulang ke Indonesia. Akhirnya setelah 2 tahun tinggal di Spanyol. Lega rasanya melepas rindu bertemu keluarga dan teman-teman di tanah air, meskipun hanya 2 bulan dan tidak cukup untuk melakukan semua hal yang ada di daftar pulang kampung (harus makan ini itu, ketemu si A, B, C dst).

Dan sudah dibayangkan, saya akan dibanjiri segudang pertanyaan seputar hidup di negeri orang. Ada satu pertanyaan yang menurut saya menarik dan tidak terbayangan oleh saya sebelumnya. Pertanyaan itu adalah: “Put, kamu dua tahun di Spanyol kok nggak berubah sih. Nggak kebule-bulean atau ada bule-bulenya sama sekali.” Hehe. Saya hanya senyum-senyum sendiri dan tidak tahu harus menjawab apa. Saya hanya bisa bertanya balik, “Memang kebule-bulean itu kayak gimana?”

Jawaban mereka diantaranya:

Nggak makan nasi. Karena menurut mereka, di negara bule itu tidak ada nasi, cuma roti atau kentang. Jadi kalau tinggal di sana pasti ketularan tidak makan nasi. — Hmm, kalau di Spanyol, nasi masih banyak dikonsumsi. Salah satu makanan khas mereka pun berbahan dasar beras/nasi, yaitu Paella, alias nasi kuningnya Spanyol yang berasal dari Valencia. Tapi ya memang kalau secara umum, orang Spanyol makanan pokoknya bukan beras, tapi roti. Beras pun untuk dimasak Paella, arroz al horno (nasi panggang), arroz caldozo (nasi kaldu), atau resep tertentu lainnya. Sebagian besar konsumen beras di Spanyol adalah pendatang, seperti saya ini. Dan di supermarket umum, banyak sekali jenis beras yang dijual. Mulai dari beras bulat (untuk paella), beras normal (yang biasa kita makan), beras basmati, dll. Jadi buat apa makan roti kalau (masih) ada nasi 😀

Ngomongnya gaya “anak Jaksel”. Sewaktu saya pulang tahun lalu memang lagi booming bahasa anak Jaksel. Jadi sepertinya beberapa teman saya ini juga berharap kalau setelah tinggal di LN, cara ngomong saya bakalan ikut-ikutan campur-aduk (bahasa Inggris – Indonesia) ala anak Jaksel. — Waduh, pas mendengar ini, saya langsung ketawa ngakak. Karena di Spanyol saya hampir tidak pernah ngomong bahasa Inggris. Dan bahkan mungkin bahasa Inggris saya sekarang udah karatan karena tidak pernah dipakai. Kalaupun cara ngomong saya campur-campur, mungkin yang ada campuran bahasa Indonesia – Spanyol kali yah. Hehehe. tapi ya kayaknya tidak mungkin, karena saya sudah terlalu rindu ngomong dengan bahasa Ibu yang tidak perlu mikir dua atau tiga kali 😀

Berdandan seksi.  Karena menurut mereka, kebanyakan orang Indonesia yang tinggal/pulang dari LN gayanya beda dan seringkali berdandan seksi. Terus menurut mereka, saya masih tetap sama, nggak suka dandan. — Hahahahaha.. saya cuma bisa ketawa menanggapi komentar ini. Duh, gimana yah.. jadi bingung mau ngomong apa 😀 .. Pada dasarnya sih saya memang tidak suka dandan. Paling pakai pelembab dan bedak. Itupun buat melindungi muka (saya yang jerawatan) dari polusi dan sinar matahari (berharap suatu hari di bumi ini akan benar-benar bebas polusi jadi tidak perlu pakai krim atau apalah itu). Kalaupun saya dandan, didandanin tentunya, itu berarti saya mau pergi kondangan 😀

Jadi Youtuber. — Kalau komentar yang satu ini saya dapat beberapa minggu yang lalu dan tidak ada hubungannya dengan hal “kebule-bulean” tadi. Jadi suatu hari, seorang teman lama menyapa saya di whatsapp. Setelah beberapa saat ngobrol, dia berkomentar, “Kok kamu nggak jadi Youtuber sih. Kan yang tinggal di LN atau yang suami/istrinya bule biasanya jadi Youtuber.” Saya cuma menjawab pendek, “Oh, gitu yah.” hehe. Memang banyak sih teman-teman di sini yang aktif bikin konten cerita di Youtube tentang kehidupan mereka di sini. Lalu saya sendiri? Doakan saja saya tidak lagi malas menulis yah, karena saya lebih senang berbagi cerita lewat tulisan, sambil belajar nulis 😀

Jadi apakah ada di antara teman-teman yang punya pengalaman yang sama dengan saya? Silakan berbagi cerita di kolom komentar yah 🙂

Makasih sudah membaca.
Sampai ketemu lagi (secepatnya)!!

Hari Kolase Sedunia (Part 4)

Hari Ketiga, 12 Mei 2018
… baca cerita sebelumnya: Part 1 | Part 2 | Part 3

Selamat Hari Kolase Sedunia!!!
Yup, tanggal 12 Mei 2018 telah dicanangkan sebagai Hari Kolase Sedunia oleh Kolaj Magazine beserta seluruh pecinta kolase di muka bumi ini. Dan hari ini merupakan hari ketiga (yang juga puncak) event Festival de Collage de Barcelona. Keriaan apa saja yang kami buat di hari ini?

MARATÓN DE COLLAGE
Kegiatan utama hari ini adalah Kolase Maraton, oops tapi jangan dibayangkan membuat kolase sambil lari-lari yah.. hehe 😀 Jadi hari ini, kami membuat kolase tanpa henti selama 12 jam, dimulai pukul 10 pagi hingga 10 malam. Tidak ada tema atau ketentuan khusus, kami bebas berbagi materi, tips, dan bahkan bertukar hasil karya. Berikut adalah beberapa kolase yang saya buat selama maraton.

Foto: Kertasiun

Foto: Kertasiun

Foto: Kertasiun

Foto: Kertasiun


CAMPEONATO MUNDIAL DE COLLAGE

Setiap tahun Kolase Maraton digelar setiap tahun di Madrid dan Barcelona. Agar kegiatan maraton lebih seru, dibuatlah event “Campeonato Mundial de Collage” atau Kejuaraan Kolase Dunia. Awalnya, mendengar namanya saja saya sudah merinding.. kejuaraan kolase dunia, wow!! Yup, ini adalah pertandingan membuat kolase dalam waktu yang sangat singkat, 5 menit!!!

Wah bagi saya yang pemula ini, 5 menit itu hanya cukup untuk menggunting satu gambar.. hehehe. Tapi ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. Deg-degan so pasti, tapi juga bikin tertawa dalam waktu yang sama. Saya berusaha setengah mati untuk rileks dan tidak memotong jari saya sendiri karena grogi. Hehe, seru sekali ternyata! Pertandingan digelar dalam 3 ronde, dan tanpa disangka saya masuk ronde kedua.. wow, keajaiban 😀 tapi saya gugur ronde ketiga. Tidak apa-apa karena ini pengalaman yang seru sekali 🙂

Foto: Societat Barcelonina de Collage

Foto: Societat Barcelonina de Collage
Selesai 🙂

Hari Kolase Sedunia 2018 (Part 3)

Hari kedua, 6 Mei 2018
… baca cerita sebelumnya: Part 1 | Part 2

Micro Collage
Kolase mikro,- mendengar istilahnya saja sudah membuat membuat hati ini penasaran. Dalam workshop ini, yang difasilitasi oleh Santi González dan Lucía Soto, kami berkreasi membuat kolase dengan perspektif yang sangat menarik. Ya, jadi seperti namanya, kolase yang kami buat hari ini adalah kolase berukuran mini sehingga dapat disajikan dalam sebuah botol/toples super mungil dan kotak korek api. Super cool ya 🙂

Foto: Kertasiun

Foto: Kertasiun

Membuat kolase mikro ternyata sangat mengasyikkan dan menantang. Sampai rumahpun saya masih ketagihan dan akhirnya melanjutkan satu kreasi lagi dengan memasukkan mini origami kedalamnya.. 😀

Foto: Kertasiun

… (masih) bersambung 🙂

Hari Kolase Sedunia 2018 (Part 2)

Hari pertama, 5 Mei 2018
… lanjutan dari Hari Kolase Sedunia

Collage y Punto
Kolase, titik. -adalah judul dan slogan workhop pertama kami. Difasilitasi oleh Albert Roca, workshop ini mendorong para peserta untuk mengintegrasikan kertas dengan komponen lain seperti kain agar menghasilkan karya kolase yang berbeda. Disini saya kesulitan, karena saya tipe yang lumayan “kaku” dalam berkolase alias sulit untuk bermain dengan bahan lain selain kertas. Alhasil, kainnya asal nempel seperti foto dibawah ini.. (agak sedikit amburadul, hehe).

Foto: Kertasiun

Mundos Redondos
Workshop kedua difasilitasi oleh Beatriz Alarcía dan Tita Berasategui. Workshop ini berjudul “Round Worlds” karena disini kami mencoba mengombinasikan gambar dan kata-kata untuk kemudian dikemas dalam sebuah dunia berdiameter 7,5 cm (baca: pinbadge). Menarik dan bagi saya ternyata lebih mudah karena ukurannya yang kecil. Berikut adalah pinbadges yang berhasil saya buat selama workshop..

Foto: Kertasiun

Collage, Lenguajes Híbridos
Hari pertama ditutup dengan bincang-bincang santai bertajuk, “Kolase, sang bahasa hibrida” bersama artis kolase Rebeka Elizegi. Disini, Rebeka berbagi seputar metode yang dia terapkan pada karya-karya kolasenya, tantangan, serta contoh karya seni kolase dari beberapa artis yang mungkin bisa menginspirasi para peserta. Senang sekali bisa bertatap muka dan berdiskusi langsung dengan Rebeka. Setelah workshop, saya langsung membeli salah satu bukunya yang berjudul Collage Therapy dan minta ditandatangani oleh beliau.. horeee.. 😀

Foto: Kertasiun

Foto: Kertasiun

 … baca cerita selanjutnya disini.

Hari Kolase Sedunia 2018

Untuk pertama kalinya, Hari Kolase Sedunia dicanangkan dan diperingati pada 12 Mei 2018. Peringatan ini dikomandani oleh Kolaj Magazine, majalah seni kontemporer yang didedikasikan khusus untuk kreasi kolase. Berita ini pun disambut baik dan secara antusias diikuti oleh para artis dan pegiat kolase di seluruh dunia dengan menggelar kegiatan berupa workshop, pameran, dan kompetisi kolase.

Foto: Kolaj Magazine
Di Barcelona, saya berkesempatan menikmati keriaan ini dengan mengikuti workshop kolase yang diadakan oleh Societat Barcelonina de Collage. Kegiatan ini dilaksanakan pada 5-6 dan 12 Mei 2018 dan merupakan seri kedua dari Festival de Collage de Barcelona yang sukses diadakan tahun lalu. Dalam festival ini, digelar pameran kolase, workshop, diskusi, kolase marathon, dan lomba kolase.
Pameran kolase dalam festival ini mengambil tema “Puro Collage”, yang berarti Kolase Murni. Namun, Puro juga berarti rokok, cerutu, sigaret, sehingga kreasi kolase yang dipamerkan harus dibuat dalam atau dengan mengintervensi kotak cerutu. Pameran Puro Collage diikuti oleh lebih dari 20 artis kolase dan digelar sepanjang 4-21 Mei 2018.

Saya sendiri masih belum pede untuk ikut pameran, karena masih “anak baru” dalam dunia persilatan kolase. Namun ketika berkunjung ke pameran tersebut dan melihat semua karya yang dibuat, hati kecil saya berkata.. “hmmm, harusnya pede aja submit hasil karya.. tahun depan harus submit!”

… baca cerita selanjutnya disini.

Secuil Cerita Dari Spanyol

Hari ini adalah hari ke-72 saya di Spanyol. Berikut secuil cerita pengalaman saya selama kuliah di Jaen, Spanyol yang saya tulis untuk #PPISpanyolBercerita.

Ole! Akhirnya impian saya untuk menapakkan kaki ke Spanyol akhirnya terwujud. Ya, kira-kira begitulah menurut sebagian besar teman-teman saya, karena memang sudah lama bermimpi pergi ke Spanyol. Dan saya dibuat semakin terpesona saat pertama kali tiba di Jaen, kota dimana saya tinggal dan menempuh studi. Bagaimana tidak? Di Jaen, hampir semua dataran dan bukitnya ditutupi oleh pepohonan zaitun. Hal ini karena Jaen merupakan Ibukota Minyak Zaitun Dunia (World Capital of Olive Oil) yang memasok lebih dari 25% produksi minyak zaitun di dunia.

Kesempatan untuk menempuh studi S2 di Spanyol saya peroleh melalui program beasiswa Atracción del Talento dari Universidad de Jaén. Di sini saya mengambil Master of Biological Resources Management in the Natural Environment, dan saya merupakan satu-satunya mahasiswa dari Indonesia. Jaen merupakan tempat yang cocok bagi mereka yang ingin mendalami dan menyukai Biologi seperti saya karena memiliki area konservasi paling luas di Spanyol. Selama studi, saya lebih banyak melakukan praktek lapangan dan analisis data.

Awalnya saya mengalami kesulitan karena bahasa pengantar kuliah sepenuhnya menggunakan bahasa Spanyol. Meskipun sudah bawa bekal bahasa Spanyol yang cukup dari rumah, ternyata aksen Andalusia sangat susah dimengerti. “Se come letra” istilahnya di sini yang secara harfiah artinya “makan huruf”. Misalnya “mas o menos” yang harusnya dilafalkan mas-o-menos, di sini dilafalkan menjadi “mah-oh-menoh. Dos jadi doh, esta jadi ehta. Inilah yang namanya makan huruf (terutama huruf S). Namun saya bersyukur karena punya teman-teman dan dosen yang baik hati dan siap membantu apabila ada kesulitan.

Pesan
Untuk masalah kesempatan mendapatkan beasiswa, sebenarnya saat ini teman-teman beruntung karena berlimpah akses dan tawaran beasiswa. Namun juga harus benar-benar dipersiapkan secara matang karena masing-masing beasiswa memiliki syarat dan skema yang berbeda-beda. Jadi pelajari baik-baik dua hal tersebut dan teman-teman harus pandai mengatur waktu dalam mengurus persyaratan beasiswa dan visa, seperti LoA, surat kontrak tempat tinggal, legalisir dokumen, dll.

Satu lagi kuncinya adalah jangan menyerah! Sebelumnya saya berkali-kali tidak lolos seleksi beasiswa, namun saya tetap optimis dan terus memvisualisasikan mimpi yang ingin saya capai. Dan boom! akhirnya sampai juga saya di Spanyol. Oh iya, jangan lupa menghubungi PPI Spanyol karena akan sangat membantu baik di saat persiapan berangkat maupun ketika sudah berada di Spanyol.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang beasiswa Atracción del Talento dari Universidad de Jaén bisa kunjungi link berikut https://www10.ujaen.es/

Cerita ini dimuat di: https://ppispanyol.org/2016/12/15/ppi-spanyol-bercerita-20/